Oktober 18, 2021

Mengenal Pahlawan Trip dan Museum Brawijaya

Ngalamnews – Komunitas Heritage Kota Malang menggelar kegiatan mlaku-mlaku bersejarah, Dalam rangka memperingati hari Pahlawan, Sabtu (28/11/2020).

Kegiatan ini diikuti kurang lebih sebanyak 20  peserta, wisata sejarah tersebut dimulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.

Kegiatan ini juga tetap mematuhi protokol kesehatan Covid 19, dimana peserta kegiatan wajib memakai masker, cuci tangan setiap memasuki tempat bersejarah, dan selalu menjaga jarak.

Pemandu wisata sejarah dari Komunitas Heritage Kota Malang, Irawan Paulus menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari memperingati hari Pahlawan.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan jalan jalan napak tilas sejarah Kota Malang. Dengan fokus menceritakan tentang sejarah Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang dengan berani bertempur menghambat laju pasukan  Belanda saat memasuki wilayah Kota Malang,” ujarnya.

Perjalanan jalan jalan bersejarah tersebut diawali dengan mengambil start di Museum Brawijaya, lalu berjalan kaki menuju ke sepanjang Jalan Besar Ijen.

“Setelah dari Jalan Besar Ijen, peserta kami ajak berhenti sebentar di monumen dan makam pahlawan TRIP yang berada di Jalan Pahlawan TRIP. Di depan makam pahlawan TRIP, kami ceritakan bagaimana para pelajar saat itu berani mempertahankan jiwa raganya berperang melawan Belanda.

Bahkan Belanda sendiri juga kaget, ketika mengetahui ternyata pasukan yang bertempur itu adalah para pelajar yang masih duduk di bangku SMP dan SMA,” bebernya.

Usai dari Jalan Pahlawan TRIP, peserta diajak berjalan memutar ke Jalan Rinjani, Jalan Dempo, dan Jalan Tanggamus.

Di ketiga jalan itu, para peserta diajak seperti kembali ke masa lalu. Dimana para peserta diceritakan tentang sejarah kawasan hunian pada jaman kolonial.

“Di kawasan ini bisa dibilang cukup unik, karena hunian yang berada di ketiga jalan tersebut dibangun pada tahun 1934 – 1935. Sedangkan hunian yang berada di Jalan Besar Ijen dibangun pada tahun 1924 – 1925. Sehingga bisa dibilang terdapat dua era yang berbeda dalam satu kawasan ini,” jelasnya.

Menurut pria berkacamata itu, di Jalan Rinjani, Jalan Dempo, dan Jalan Tanggamus terdapat bangunan rumah unik. Yaitu bangunan rumah yang disebut dengan rumah jengki.

“Rumah jengki adalah rumah berlantai dua dengan atap segitiga. Dimana  kemiringan atapnya mencapai sekitar 60 derajat. Dan di dalam atapnya itu, berisi ruangan lantai dua rumah yang dilengkapi dengan jendela serta terkadang dilengkapi dengan teras,” ungkapnya.

Setelah itu kegiatan jalan jalan bersejarah tersebut berakhir, dengan mengambil tempat finish di Museum Brawijaya.

Di Museum Brawijaya, para peserta diajak masuk dan diceritakan berbagai benda benda sejarah koleksi museum.

Dirinya berharap dengan kegiatan tersebut, para peserta lebih paham dan lebih mengerti tentang berbagai sejarah dan seluk beluk Kota Malang.

“Kenali dan cintai kotamu dulu. Pelajari sejarahnya, karena masyarakat sering melewati kawasan ini. Namun terkadang lupa, bahwa di kawasan ini terdapat cerita sejarah yang begitu banyak dan patut untuk dilestarikan dan diceritakan kepada generasi muda,” tandasnya. (kukuh)